CerBung: Tanda dari langit

Bagian 1 — Pesan dari Nomor yang Mati

Sudah satu tahun sejak pesawat itu jatuh.
Satu tahun sejak berita di televisi menyebut nama yang membuat dadaku sesak — Raka Aditya, tunanganku, satu dari 172 penumpang yang tak pernah kembali.

Sejak malam itu, aku berhenti membuka WhatsApp-nya. Nomornya masih tersimpan, tapi hanya jadi semacam batu nisan digital — diam, tak pernah bergetar lagi.
Sampai malam ini.

Tepat pukul 22.47, ponselku berbunyi.
Nada pesan itu sama seperti dulu, yang Raka pasang untuk “kalau aku chat kamu, pasti kamu tahu itu aku.”
Aku sempat menatap layar lama, memastikan mataku tidak salah. Tapi di sana, jelas tertulis:

Raka 💙
Aku tidak pernah benar-benar pergi.

Tanganku gemetar. Aku menatap profilnya — foto terakhir kami berdua masih sama: senyum di tepi pantai Lombok, sebelum keberangkatannya.
Aku tahu nomor itu sudah tidak aktif. Aku sendiri yang menonaktifkannya bersama keluarganya, setelah pihak operator menyatakan akun itu tidak bisa dipulihkan.

Tapi pesan itu... muncul begitu saja.
Bukan pesan lama, bukan arsip, bukan pesan terhapus.
Pesan baru.

Aku coba mengetik balasan:

“Siapa ini? Tolong jangan bercanda.”

Pesan terkirim, dua centang.
Tidak dibaca.
Lima menit... sepuluh menit... aku menatap layar, antara takut dan berharap.

Sampai akhirnya, ponselku bergetar lagi.
Satu pesan baru masuk.

Raka 💙
Datanglah ke tempat kita pertama kali bertemu.

Aku terdiam.
Pohon angsana di taman kota. Bangku tua warna hijau yang sudah mengelupas.
Tempat di mana ia pernah berkata, “Kalau suatu hari aku pergi duluan, aku akan kirim tanda dari langit supaya kamu tahu aku baik-baik saja.”

Aku menatap jendela kamar. Di luar, hujan mulai turun perlahan.
Langit malam seperti memanggil—
dan entah mengapa, aku tahu... besok aku harus datang ke sana.

💬 Bersambung ke Bagian 2 — “Di Bawah Pohon Angsana”
#TandaDariLangit #CerpenBersambung #KisahMisteri #DramaCinta #CeritaPendek


0 Komentar